TV Series Review: Anne with an E, Kebebasan Berpendapat

Sepuluh hari terakhir di awal masa PPKM, gue menikmati setiap waktu luang yang ada (untungnya gue punya banyak) dengan merebahkan diri di kasur kamar, sambil menikmati kisah Anne with an E di TV dari season 1 sampai season 3. Total ada 27 episode. Sumpah, enggak nyesel nonton film dengan latar belakang abad ke-19 ini.

Beberapa kali sempat melihat tumbnail Anne with an E ini di Netflix, sempat berkata pada diri sendiri “Besok nonton ah.” Tapi kemudian lupa, dan sibuk nonton yang lain. Sampai akhirnya gambar Anne with an E tak muncul lagi. Kemudian, review serial tv ini muncul di timeline twitter gue. Persis di saat gue butuh menghibur diri dengan film yang ringan tapi menarik.

Berawal dari Salah Adopsi

Anne with an E merupakan adopsi dari novel Anne from Green Gables karangan Lucy Maud Montgomery. Setahu gue ini merupakan salah satu novel klasik dunia seperti Liltte Women, tapi gue belum pernah berminat membacanya. Hanya sempat membuat hiasan dinding berupa cross stitch-nya.

Anne merupakan anak yatim piatu yang imajinatif. Kalau dia berada di saat ini, mungkin akan gue sandingkan sebagai Queen of Babble karangannya Meg Cabot, soalnya mulut dia tuh enggak bisa diam. Nyerocos mulu. Kaya gue sih. Anne berambut merah, kurus, dan wajahnya dihiasi frekcles. Menurut Anne sendiri dia enggak menarik, enggak cantik, tapi dia pintar.

Kedatangan Anne ke Green Gables, tempat tinggal kakak beradik Mathew dan Marilla Cuthbert berawal dari salah adopsi. Mathew dan Marilla Cuthbert berencana mengadopsi anak laki-laki untuk membantu Mathew di kebun. Tapi yang datang malah Anne, seorang anak perempuan. Nah lho?! Marilla sempat bersikeras untuk mengembalikan Anne ke panti asuhan, sementara Mathew sepertinya sudah terpesona pada kemampuan Anne bercerita.

Singkat cerita, akhirnya Anne resmi diadopsi keluarga, bahkan namanya pun secara resmi menjadi Anne Shirley – Cuthbert. Happy ending? Belum dong, karena petualangan Anne di Green Gables baru dimulai. Nasib Anne sebagai anak yatim piatu dan kebiasaannya yang banyak bicara, membuat dia agak sulit diterima oleh kebanyakan orang. Hanya Diana Barry, anak tetangga keluarga Cuthbert yang langsung merasa cocok dengan Anne. Mereka bahkan bersumpah untuk menjadi sahabat seumur hidup mereka.

Lambat laun satu persatu teman-teman di sekolah Anne pun mulai bisa menerima kehadiran Anne. Tentunya setelah mereka bisa melihat sisi baik dari Anne. Selain penuh imajinasi, Anne merupakan orang yang pedui pada orang lain, tulus saat membantu. Meski tak jarang dia juga juga ngeyelan ketika merasa tidak salah. Anne bahkan bisa bersahabat dengan Josephine Barry, yang merupakan nenek dari Diana. Selain itu ada pula Gilbert Blythe, saingan Anne di kelas, mereka sama-sama pintar.

Kebebasan Berpendapat dan Isu Sosial Lainnya

Anne with an E ini bukanlah drama ringan, karena ada banyak mengangkat isu-isu sosial yang terjadi di masa itu. Yang bikin gue takjub, hei bahkan isu-isu itu masih relevan di masa sekarang. Seperti oal kesetaraan gender, kebebasan berpendapat, hingga soal LGBT. Apakah itu artinya kita hanya berputar di isu-isu yang sama aja dari waktu ke waktu?

Pada salah satu episode di season 3 yang berjudul “The Summit of My Desires”, salah seorang teman sekolah Anne mengalami pelecehan seksual oleh tunangannya. Bukannya menyalahkan pelaku pelecahan seksual, tapi justru yang terjadi adalah menyalahkan korban. Sound familiar with this issues?

Anne jelas merasa bahwa ini enggak benar. Sudah jelas yang salah adalah si cowok yang memaksa dan melakukan pelecehan. Anne menuangkan pendapatnya tentang keadilan dalam gender dalam surat kabar sekolah yang biasanya akan disebar saat ibadah gereja pagi. Dan tahukah kamu gimana reaksi masyarakat?

Marah! Semua menyalahkan Anne dan gurunya karena sudah membiarkan tulisan itu terbit. Pendapat Anne dianggap sampah. Meski tak sedikit sebenarnya teman-teman Anne yang sependapat dengan pemikiran Anne. Anne dipaksa untuk mundur dari penulis koran oleh Dewan Balai Kota. Dan ketika mereka semua berusaha menyerukan pendapatnya dan mengingatkan bahkan kebebasan berpendapat merupakan hak asasi manusia, sekolah mereka dibakar.

Bukan tanpa sebenarnya sekolah mereka dibakar. Aksi menuntut kebebasan berpendapat yang dipimpin oleh Anne sebenarnya memberikan reaksi yang bagus dari masyarakat. Tidak sedikit yang tadinya berpikir bahwa selama ini Anne terlalu banyak ikut campur urusan orang lain, justru ikut membela Anne, termasuk Rachel Lynde, sahabat sekaligus tetangga Marilla Cuthbert, yang sejak awal kedatangan Anne di Green Gables sudah sering berbeda pendapat dengannya.

Belajar Membuka Diri Seperti Marilla Cuthbert

Selain Anne sang tokoh utama yang penuh daya pikat, aku tertarik sama Marilla Cuthbert. Berbeda dengan adiknya Mathew yang justru langsung tertarik dengan Anne, Marilla terlihat sangat berhati-hati. Bahkan di awal-awal episode, Anne sempat diusir karena dituduh mencuri perhiasan Marilla. Tapi ketika menyadari kesalahannya, Marilla pun meminta Mathew untuk membawa pulang Anne lagi.

Jujur ya, gue sempet sebel sama Marilla ini. Dia nih sosok old fashion yang kaku sama aturan dan agama, penuh kehati-hatian, dan keras kepala. Kadang heran kenapa Mathew ini nurut banget sama Marilla. Tapi ternyata masa lalu yang membuat mereka seperti itu, termasuk keputusan mereka untuk tidak menikah.

Marilla dan Mathew ternyata punya saudara lain, tapi meninggal ketika masih muda. Setelah kematian saudaranya inilah kehidupan mereka berubah, termasuk harus berhenti sekolah, melepas kekasih, demi mengurus keluarga. Ibu mereka jatuh sakit karena memikirkan kematian putranya, Marilla sebagai anak paling besar langsung mengambil peran kepala keluarga.

Pelan-pelan setelah Anne hadir dalam kehidupan Marilla, dia pun mulai belajar untuk berubah dan membuka diri. Sulit pastinya buat dia. Tapi gue salut sih. Enggak sedikit perdebatan antara Marilla dan Mathew soal Anne, tapi mereka sepakat bahwa yang penting Anne harus bahagia.

Masih banyak tokoh menarik lain dalam serian Anne with an E ini, seperti Diana Barry, Jospehine Barry hingga Ka’Kwet yang masih bikin gue penasaran sama nasibnya. Tapi kalau gue tulis itu semua nanti jadi cerita bersambung yang bakal membosankan dan menuai kritikan karena spoiler alert. Mending kalian tonton sendiri aja deh serial Anne with an E ini. Nanti kalau sudah pada nonton, ceritakan pendapat kalian di kolom komentar ya.

Tomorrow Is Always Fresh With No Mistakes In It

Anne, Anne with an E

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *