Tentang Kematian Blackpink

pic source: unsplash

“Teh, Blackpink meninggal.” Kabar duka itu disampaikan Kang Iwan saat aku tengah menyelesaikan pesanan artikel. Dari garasi, tempat ia sedang mengerjakan proyek kitchen set aku, ia masuk ke ruang tengah khusus menyampaikan kabar duka itu.

Aku tertegun beberapa saat di depan laptop. Sedikit butuh waktu untuk mencerna kalimat yang disampaikan tadi. Blackpink. Meninggal. Kok bisa? Rasanya baru beberapa saat yang lalu aku melihat dia tengah tidur meringkuk di tangga garasi. Sakitkah? “Tadi kayaknya keserempet motor, terus lari ke bawah mobil rumah depan. Meninggalnya di sana. Tadi di kasih tahu sama yang punya rumah.” Seakan bisa membaca isi hatiku, Kang Iwan melanjutkan ceritanya.

Blackpink yang dimaksud adalah anak kucing yang berwarna hitam. Kalau aku tak salah mengingat usianya baru sekitar 3 bulan. Ia adalah anaknya Tan, kucing betina yang paling tua di kawasan rumahku. Sebenarnya aku tidak memelihara kucing, hanya saja, sejak Tan masih kecil, ia dan saudaranya, Felix, sering bermain ke rumahku. Sesekali aku memberi mereka makan. Hingga akhirnya aku terus menerus memberi makan, dan mereka pun semakin betah dan nyaman di rumah putih.

Felix sudah lebih dulu hilang. Sementara Tan, masih bertahan di sekitar rumahku selama 6 tahun ini. Entah sudah berapa banyak anak-anak yang ia lahirkan di pekarangan rumahku. Tempat favoritnya untuk menyimpan bayi-bayi yang baru dilahirkannya adalah teras atas depan kamar adikku. Mungkin dirasa tersembunyi karena berada di lantai dua.

Dari tiga anak yang dilahirkan Tan, hanya dua yang bertahan sampai usia lebih dari satu bulan. Aku memberi nama mereka Blackpink dan Blacky secara asal karena keduanya berbulu hitam. Biasanya aku baru memberi nama kucing jika mereka “resmi” menjadi penghuni teras depan rumah.

Satu bulan terakhir ini, Blackpink dan satu Blacky ikut meramaikan teras depan rumah. Bahkan kehadiran mereka mengusir beberapa kucing yang biasanya ikut nongkrong di rumahku. Tan ini selalu galak sama kucing lain ketika anak-anaknya mulai ikut rebutan makanan. Tak heran bila akhirnya kucing-kucing lain memilih mencari tempat lain untuk mencari makan.

Sudah satu bulan juga aku terbiasa dengan polah Blackpink dan Blacky. Dua bocah lincah yang kalau aku lupa menutup pintu depan, akan membuat sofa-sofa di ruang tamu menjadi sasaran tempat main mereka mengasah ketajaman cakar. Dua bocah yang setiap kali Mas Metra pulang kantor, terpaksa aku masukan kandang agar mereka tidak berlarian di carport dan garasi saat mobil hendak masuk. Tapi dengan berita yang baru saja disampaikan Kang Iwan, kini yang tersisa hanya tinggal Blacky.

***

pic source: Unsplash

“Mbak, tadi kucing yang hitam ada yang mati di rumah saya.” Kalimat itu dituturkan oleh tetangga depanku, ketika aku tengah menunggu Mas Metra pulang kantor. Aku duduk di teras rumah bersama Blacky.

Dari berita duka soal kepergian Blackpink siang itu, aku lupa menemani Blacky. Tak terpikir kalau ia pastinya merasa sedih dan kesepian. Baru ketika Mas Metra mengabarkan otw pulang, aku ke teras rumah dan mendapati Blacky tengah mengeong sendirian di dalam kandang. Ada nada sedih dalam suaranya. Pastinya ia tengah bertanya-tanya kemanakah saudaranya yang biasa menemani dia main, makan, dan tidur. Aku tak melihat Tan, mungkin dia juga sedang berusaha melipur laranya seorang diri entah dimana.

Hewan, sebagaimana kita manusia, juga memiliki rasa senang, sedih, juga gelisah. Hanya saja mungkin karena perbedaan bahasa yang tak dimengerti membuat kita tak paham apa yang mereka katakan. Selamat jalan Blackpink, yang tenang kamu di alam sana . Biarkan Blacky aku temani di sini semampu aku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *