Semoga Semuanya Akan Baik-Baik Saja

“Ibu takut banget ya sama kondisi seperti ini?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari asisten rumah tanggaku, Mbak Nanik, ketika lagi-lagi aku meracau membahas pandemi yang tidak kunjung usai, bahkan dirasa semakin parah saat ini. Tanpa perlu berpikir panjang, aku langsung mengiyakan pertanyaan itu. Iya, aku takut sama kondisi sekarang ini. Takut yang bisa jadi mengarah pada kecemasan berlebihan.

“Memangnya Mbak Nanik enggak takut?” aku balik bertanya. Dia diam sesaat sebelum akhirnya menjawab “Masih terasa biasa aja sih.”

***

Dasar aku. Sebuah pertanyaan dari ART aja bisa bikin aku kepikiran terus-menerus. Aku merasa enggak puas sama jawaban aku sendiri. Iya, aku memang merasa cemas dengan keadaan ini. Aku mulai merasa gampang panik. Tapi apa yang sebenarnya aku takuti? Bukan aku kalau enggak sampai merenung seharian untuk mencari tahu jawabannya.

Aku bukan tipe yang takut menghadapi kematian. Buat aku kematian adalah hal yang sudah pasti akan terjadi sama aku. Cepat atau lambat. Soal kematian, aku pernah membuat tulisan 8 Hari Menuju Kematian dan Persiapan Kematian Travel Galau. Keduanya memang tulisan pesanan, tapi bagaimana aku memandang kematian kurang lebih tak jauh beda. Insya Allah aku siap jika sewaktu-waktu malaikat maut menjemputku.

Lantas kenapa aku harus menjadi cemas menghadapi penyebaran covid-19 yang semakin menggila ini?

Aku mungkin bisa pasrah menghadapi kematianku sendiri. Tapi aku paling takut kalau sampai harus ditinggalkan mama, papa, dan Mas Metra. Tak pernah bisa kubayangkan bagaimana aku harus menjalani hari-hari tanpa mereka. Dari dulu aku sering bilang, kalau aku bisa request, aku ingin aku yang pertama meninggalkan dunia sebelum mereka. Tentunya pemikiran aku itu selalu menuai nasihat dari mereka semua: Enggak boleh gitu, yang namanya mati kan takdir, harus siap ditinggalkan, dan nasihat sejenis lainnya. Tapi tetap saja, sampai sekarang kalau boleh, requestku masih sama: aku tak ingin ditinggal mereka.

Itu sebabnya satu minggu terakhir ini aku enggak tenang. Aku berantem ketika mama masih bersikukuh harus ke Kabupaten Bandung dalam kondisi begini (untung akhirnya enggak jadi pergi). Aku panik ketika tahu Mas Metra tetap harus ke kantor seminggu dua kali meski lagi PPKM Darurat. Aku panik. Aku takut mereka sakit dan kehilangan mereka. Aku belum siap. Aku enggak akan pernah siap.

***

“Bu, doain saya terus sehat ya. Saya enggak mau mati dulu. Saya masih ada utang, jangan sampai nanti anak-anak yang harus menanggungnya.”

Sepertinya kita semua punya alasan masing-masing tentang rasa takut menghadapi kematian. Berbeda dengan aku yang takut kehilangan orang-orang yang aku sayangi, Mbak Nanik lebih takut meninggalkan utang kepada kedua anaknya.

Dalam hati aku terus berdoa, semoga pandemi ini akan segera berakhir. Dan kami semua akan baik-baik saja. aamiin.

One thought on “Semoga Semuanya Akan Baik-Baik Saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *