Book Review: Jakarta Sebelum Pagi, Bukan Tentang Wisata Kota Jakarta

Akhirnya, gue baca juga buku lagi. Akhirnya gue baca buku Jakarta Sebelum Pagi juga. Buku yang sudah lama bolak-balik ingin gue beli, tapi urung karena takut yang gue beli itu buku bajakan. Kemudian gue menjadi takut kalau ternyata lagi-lagi buku yang gue beli hanya akan menjadi pajangan, penghuni di rak buku tanpa berhasil dibaca, seperti puluhan buku lainnya yang gue beli beberapa tahun terakhir ini.

Entah kemana minat membaca gue sekarang ini. Mungkin terkikis akibat minat menonton serial barat yang tak kunjung habis watch list-nya. Ah sudahlah, gue di sini bukan untuk membahas soal minat baca, tapi untuk mereview buku Jakarta Sebelum Pagi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (susah ya nulisnya, gue sampai copas dari Google biar enggak salah).

Jakarta Sebelum Pagi ini gue baca dalam bentuk e-book. Daripada gue pusing memastikan ini buku bajakan atau bukan, kemudian pusing beli buku puluhan ribu kemudian ternyata cuma jadi pajangan, akhirnya gue memutuskan untuk membayar member premium di Gramedia Digital aja. Enggak sampai seratus ribu sebulannya, gue bisa baca sepuasnya semampu gue. Lebih hemat, lebih ngurangin rasa bersalah kalau gue enggak menamatkan bukunya, meski artinya, gue enggak bisa berfoto keren dengan buku yang sedang gue baca itu.

Book Review: Jakarta Sebelum Pagi, Bukan Tentang Wisata Kota Jakarta

Awalnya gue mengira buku Jakarta Sebelum Pagi ini menceritakan tentang tempat-tempat yang ada di Jakarta. Well, memang ada sih beberapa tempat yang dibahas, tapi bukan itu justru kisah dari buku ini.

Jakarta Sebelum Pagi menceritakan tentang Emina, nama cewek 25 tahun yang jadi tokoh utama dalam buku fiksi ini, bukan merk kosmetik, dan stalkernya, Abel. Menurut gue Emina adalah sosok cewek biasa, hanya punya sifat-sifat unik, salah satunya susah serius dan mudah membicarakan random things yang muncul di dalam kepalanya. Mungkin bagi sebagian orang, kebiasan ngoceh enggak tentu arah seperti itu adalah hal yang aneh, tapi ya memang ada yang seperti itu, gue salah satunya. Mungkin ini kenapa salah satu alasan gue suka membaca buku Jakarta Sebelum Pagi.

Buku ini agak berbau misteri. Misteri pertama yang harus dipecahkan adalah, siapa stalker Emina yang suka mengirimkan balon berisi Mawar, hyacinth biru, dan melati ke balkon apartemen Emina. Misteri berikutnya adalah petualangan Emina bersama Abel, si stalker memecahkan siapa penulis surat yang mereka temukan di halaman akhir koleksi buku-buku Pak Meener, kakek Abel, yang juga tetangga Para Jompo, kakek nenek Emina.

Gue takut meneruskan tulisan tentang Jakarta Sebelum Pagi ini. Takut kalau ternyata gue keasikan menulis sampai akhirnya memberikan spoiler besar-besaran. Sebelum gue kebablasan, intinya gue cuma ingin bilang: buku ini bukan saja memberikan cerita yang menarik, tapi cara bertutur Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini bikin gue….. kehilangan kata-kata buat menjelaskan gimana perasaan gue ketika membaca buku ini. Buku ini sebenarnya bukan buku ringan, tapi cara bertutur Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini begitu menyenangkan, sampai seperti ringan.

Tapi ini Jakarta – a place of freaky things to happen. And just because it’s different, doesn’t mean it’s wrong.

Jakarta Sebelum Pagi, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, halaman 256

Karakter-karakter dalam buku ini begitu unik. Bukan saja soal Emina yang hobi mengoceh tentang babi, tapi juga Abel, Nisa, Datuk, Nin, Suki, hingga Pak Meener, semua memiliki keanehan masing-masing. Pernah enggak sih kita merasa kalau kita tuh beda dari kebanyakan orang lain? Nah, gara-gara buku ini gue merasa tiap orang memang tercipta berbeda dan aneh dengan gayanya masing-masing. Enggak ada yang salah dengan menjadi orang aneh.

Cara hidup manusia tidak tergantung pada waktu. Mungkin yang memengaruhi cara hidup mereka adalah diri mereka sendiri

Jakarta Sebelum Pagi, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, halaman 213

Ada banyak kalimat-kalimat menarik dalam buku Jakarta Sebelum Pagi ini. Termasuk soal bahasan Museum Taman Prasasti, kuburan yang kini menjadi objek wisata. Gue termasuk yang cukup sering berkunjung ke tempat ini demi foto-foto yang menarik untuk dipamerkan di media sosial. Eh awalnya demi nilai mata kuliah fotografi sih, tapi terus berlanjut sampai sekarang. Tapi ketika membaca apa yang dipikirkan Emina tentang konsep pemakaman yang dijadikan kuburan, mau tak mau gue sedikit merenung juga. Sedikit ya, enggak banyak. Soalnya at the end gue berpikir lho tapi kan pemerintah yang menjadikan tempat itu sebagai museum, gue juga masuk tetap bayar tiket, bayar biaya kamera, dan tetap berusaha menghormati mereka yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia.

Sebagai penutup mengakhiri tulisan ini, gue ingin memberikan kutipan ter-love gue dari buku Jakarta Sebelum Pagi:

Kadang-kadang, orang membaca buku supaya dikira pintar. Lalu mereka membaca buku sastra terkenal, buku yang mendapat penghargaan. Dan, meskipun mereka nggak menyukainya, mereka bilang sebaliknya karena ingin dianggap bisa memahami pemikiran sastrawan kelas atas. Ini adalah hal bodoh. Jangan pernah membaca karena ingin dianggap pintar; bacalah karena kamu mau membaca, dan dengan sendirinya kamu akan jadi pintar.

Jakarta Sebelum Pagi, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, halaman 72

So, let’s just keep reading the books we like, not what other read. Semoga aja gue bisa terus kembali semangat membaca lagi.

 Judul Buku               : Jakarta Sebelum Pagi
 Penulis                  : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
 ISBN                     : 978-602-375-843-2
 Penerbit                 : Grasindo
 Terbit                   : 2016 

2 thoughts on “Book Review: Jakarta Sebelum Pagi, Bukan Tentang Wisata Kota Jakarta

  1. Aku baru sekali baca buku Ziggy, yg Di Tanah Lada. Jujurnya awal baca suka. Cara dia menulis berasa ringan, tp menohok :D. Cuma dari dulu aku ga suka dengan segala alur yg sad ending. Dan karena di Tana Lada ending nya sad buatku, so, rada kapok mau baca buku dia lagi :D. Itulah kenapa aku ga pernah keberatan Ama spoiler mba. Krn pengen mastiin aku bakal baca buku itu ATO ga nantinya :D. Tergantung ending..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *