About Me

Halo…..

Nama aku Dian. Iya, kalian enggak salah baca, aku pun enggak typo kok. D – I – A – N. DIAN. Bukan Diah. Nama lengkapku Dian Safitri. Sebenarnya Diah Cici adalah nama yang kusebutkan sendiri ketika aku masih kecil, dan kesulitan melafalkan namaku dengan benar.

Dulu aku pernah berangan-angan, jika suatu saat nanti aku menjadi penulis, aku akan menggunakan nama Diah Cici sebagai nama penaku. Tapi itu dulu, ketika aku masih berseragam putih biru. Seiring waktu sepertinya aku mulai melupakan nama itu, dan malah menggunakan nama Dian Ravi sebagai blog pertama aku. Blog yang hadir sebagai wadah aku meninggalkan jejak digital tentang kisah-kisah perjalanan aku di tahun 2015.

Blog kedua aku lahir 3 tahun kemudian, 2018, Travel Galau. Alasannya aku ingin punya blog yang khusus berniche travel, DianRavi terlalu gado-gado. Aku mulai membangun personal branding baru dengan Travel Galau ini, tukang main yang tertarik dengan fashion. Well, that is the real me actually.

Dan kini, blog ketiga aku lahir di tahun 2021, Diah Cici. Aku beralasan ini punya blog sebagai wadah curhat, karena di kedua blog sebelumnya aku jadi merasa jengah untuk curhat. Tapi aku mulai berpikir ini hanya sebuah alasan belaka. Mungkin memang kebiasaan aku aja punya blog baru. Semoga saja aku bisa dan sanggup memantain ketiga blog aku dengan baik.

Mungkin dari banyaknya blog yang aku miliki, kalian bisa menyimpulkan sendiri, kalau aku senang bercerita. Selain bercerita, aku juga senang main, dan semenjak satu tahun terakhir ini, aku jadi punya hobi baru: belanja online. Sebenarnya itu bakat yang sudah terpupuk sedari kecil, tapi akibat terjebak di rumah aja di masa pandemi ini, bakat terpendam itu kembali muncul.

Aku seorang istri dari Metra Ravi, pria cool super garing, yang rajin banget bikin aku tertawa. Sesuatu yang sagat aku butuhkan dalam kondisi terakhir ini. Aku punya masalah dalam menghadapi mental illness, mudah depresi, dan berulang kali mencoba bunuh diri di masa-masa sekolah dan kuliah dulu. Sekarang meski kecendurungan berpikir untuk mati sudah hampir tidak pernah terlintas, tapi bukan berarti aku sudah baik-baik saja. Aku bersyukur punya suami yang bisa memahami mood aku yang naik turun tak tentu arah ini.

Aku juga seorang pejuang IVF yang masih belum berhasil. Patah hati? Tentu. Tapi aku masih belum menyerah. Meski sekarang aku sedang tidak program hamil di dokter manapun, bukan tak mungkin suatu hari nanti aku akan kembali untuk program bayi tabung lagi.

Sepertinya cukup sekian perkenalan dari aku. Seiring bertambahnya tulisan di blog ini, kalian pasti akan semakin mengenal aku. Semoga kalian betah membaca tulisan-tulisan aku. Jangan lupa, tinggalkan komentar agar kita bisa saling mengenal.